Monday, June 3, 2013

Retorika Dialog

"cerpen lo itu kebanyakan dialog, sar... biasanya cerpen yang baik itu yang dialognya padat..."
 dan setelah itu, dia memberi contoh sebuah cerita pendek yang lain, karya Putu Wijaya.

terhenyak! itulah sensasi pertama yang aku rasakan dari ujarnya, kata-kata yang keluar dari seorang yang mengaku sulit menulis, mudah mengantuk saat membaca, dan tak menyukai cerpen sama sekali sebelumnya. sial!ah, tapi apa peduliku! saat itu, komentar dia yang membuat aku semakin tahu kelemahan krusial dalam mengharmonisasi dua puluh enam abjad menjadi berlembar-lembar halaman itu. jujur? ya, dia hanya ingin bilang, bahwa dialog jarang sekali menjadi inti dari sebuah karya sastra, terlebih bagi penganut surealisme.

perlahan saya menemukan kesamaan antara dunia nyata dan fungsi dialog dalam sebuah prosa. Menulis adalah seni mengumbar kata, seni yang paling soktahu dan semata-mata bisa terkesan sangat menggurui ditangan penulis amatir yang hanya tahu benar dan salah dalam sebuah kancah hitam putih (yak! seperti saya :p). Menulis juga seni umbar fakta, dimana kejujuran menjadi topik utama, sayangnya kita berada dalam dunia fana, dimana manusia malah enggan bicara mengenai borok-boroknya sendiri, enggan membicarakan kejujuran. Untuk itulah estetika hadir membaluti kejujuran itu, voila! jadilah karya sastra, karya dimana manusia bisa menikmati kejujuran dengan berbaur perasaan nikmat karena bemain di kancah imajinya sendiri-sendiri. 

dialog. adalah suatu atribut dalam sastra yang sama sekali tak diperuntukkan sebagai penjelas informasi, bukan disitu inti kejujuran berada, dialog hadir untuk menguatkan suasana, membangun deskripsi, serta membentuk karakter tokoh yang diciptakan penulis. hanya satu dua penulis yang bisa membuat dialog juga bisa dinikmati sebagai sebuah karya, tanpa membuat sebuah tulisan hancur berantakan karena unsur estetik yang hilang karena rentetan dialog lepas yang menghancurkan alur yang ada. penggunaan dialog yang boros sama sekali tidak akan mengindahkan sebuah karya, sebaliknya, hal itu akan menghancurkan ritme-ritme yang sudah susah payah kau bangun dari sebuah prolog.

bukankah seharusnya dunia nyata juga begitu, tak usah umbar dialog retoris hanya untuk memperjelas apa yang dimaksud pada manusia sekitar, laku dan gerak adalah alur hidu yang sebenarnya, inti kejujuran diri bermula, bukan dari dialog yang sering terumbar... apalagi monolog kosong pada ramainya pasar wicara yang sekarang semakin ramai, bising, tapi juga becek dan bau sampah. sama sekali tak indah, karena dari awal kebanyakan dialog telah disalah gunakan, disalah tempatkan.

dan dia yang menunjukkan kelemahanku dalam berdialog, menutup sebuah kalimat yang bukan lagi membuat terhenyak, namun juga menyentak! cukup galak. 

"kalo lo gak bisa make dialog, mendingan gak usah pake dialog sama sekali dalam ceroen-cerpen lo itu, sar"
baik. akan aku ingat lekat-lekat pesannya itu... 

No comments: